"Ini Cerpen karyaku sendiri..
jika ada kemiripan dan kesamaan nama,tempat,suasana dan lain sebagainya.Mohon dimaafkan karna itu semua diluar rencana saya sebagai penulis cerita ini. maaf jika ada kesalahan dalam penulisan, karna saya juga baru belajar dalam bidang ini. sekian dan terima kasih".
jika ada kemiripan dan kesamaan nama,tempat,suasana dan lain sebagainya.Mohon dimaafkan karna itu semua diluar rencana saya sebagai penulis cerita ini. maaf jika ada kesalahan dalam penulisan, karna saya juga baru belajar dalam bidang ini. sekian dan terima kasih".
Keluarga Kecil
Setiap pagi di kediaman keluarga yang masih di bilang baru ini
selalu seperti ini. Seorang wanita separuh bayah yang sibuk di dapur memasak untuk suaminya dan putri kecilnya. Sang
ayah yang sibuk berlari mengejar putri
kecilnya yang terus menerus berlari agar tidak di suruh mandi. Dan sepasang suami
istri tersebut menamai putri kecilnya mereka dengan nama “Yesi”. Nama yang
indah dan lucu seperti dirinya.
Ibu hanya mengerang frustasi dan menghampiri putri kecilnya yang kebetulan berlarinya di depannya.“Kena kau!” ucap ibu yang langsung menggendong putri kecilnya sambil mencubit hidung anaknya.“Huaaa buuu!! Lepaskan!!!” Yesi meraung-raung di gendongan ibunya. Ibunya terus saja berjalan ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamar anaknya itu.
“Sekarang mandi dan pergi sekolah!” Suruh ibu dan Yesi pun langsung menurut.“Bu, Apa kau tidak terlalu galak menyuruhnya?” Tiba tiba ayah datang dan berdiri di samping ibu.“Tidak. Yesi harus mandiri. Dia tidak bisa dimanjakan terus menerus. Kau yang selalu memanjakannya!” Jawab ibu panjang lebar.“Tapikan dia masih kecil. Masih bisa kita manjakan”.“Tapi harus di biasakan mandiri sejak kecil!” ucap ibu. “Ta-” ucapan Ayah terpotong karena Yesi putrinya sudah keluar dari kamar mandinya. Ibu langsung menghampiri Yesi dan membawanya ke depan lemari pakaian Yesi. Lalu ibu mengambil baju seragam Yesi dan memakaikannya.“Sudah. Ayo turun. Kita sarapan dan setelah itu kau pergi ke sekolah” ucap ibu dan mencium pipi Yesi.
Yesi hanya merengut dan langsung mengelap pipinya yang habis di cium ibunya. Setelah itu, mereka bertiga keluar dari kamar Yesi dan berjalan menuruni tangga. Yesi yang berada di gendongan ayah tertawa bersamanya karena ayah memberinya lelucon yang lucu. Ibu yang mendengarnya merasa lelucon dari suaminya tidak lucu sama sekali. Mereka mengambil tempat duduk masing masing ketika sudah tiba di ruang makan. Ibu yang bersebelahan dengan sang suami, dan Yesi yang berada di depan ibunnya.
Ibu hanya mengerang frustasi dan menghampiri putri kecilnya yang kebetulan berlarinya di depannya.“Kena kau!” ucap ibu yang langsung menggendong putri kecilnya sambil mencubit hidung anaknya.“Huaaa buuu!! Lepaskan!!!” Yesi meraung-raung di gendongan ibunya. Ibunya terus saja berjalan ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamar anaknya itu.
“Sekarang mandi dan pergi sekolah!” Suruh ibu dan Yesi pun langsung menurut.“Bu, Apa kau tidak terlalu galak menyuruhnya?” Tiba tiba ayah datang dan berdiri di samping ibu.“Tidak. Yesi harus mandiri. Dia tidak bisa dimanjakan terus menerus. Kau yang selalu memanjakannya!” Jawab ibu panjang lebar.“Tapikan dia masih kecil. Masih bisa kita manjakan”.“Tapi harus di biasakan mandiri sejak kecil!” ucap ibu. “Ta-” ucapan Ayah terpotong karena Yesi putrinya sudah keluar dari kamar mandinya. Ibu langsung menghampiri Yesi dan membawanya ke depan lemari pakaian Yesi. Lalu ibu mengambil baju seragam Yesi dan memakaikannya.“Sudah. Ayo turun. Kita sarapan dan setelah itu kau pergi ke sekolah” ucap ibu dan mencium pipi Yesi.
Yesi hanya merengut dan langsung mengelap pipinya yang habis di cium ibunya. Setelah itu, mereka bertiga keluar dari kamar Yesi dan berjalan menuruni tangga. Yesi yang berada di gendongan ayah tertawa bersamanya karena ayah memberinya lelucon yang lucu. Ibu yang mendengarnya merasa lelucon dari suaminya tidak lucu sama sekali. Mereka mengambil tempat duduk masing masing ketika sudah tiba di ruang makan. Ibu yang bersebelahan dengan sang suami, dan Yesi yang berada di depan ibunnya.
Ibu mengambilkan makanan Yesi dan
memberinya. Ibu menopang
dagunya dengan tangannya dan memandang Yesi. Dia sangat bersyukur mendapat malaikat kecil yang cantik.“Aku selesai!!” Yesi berkata dengan girang dan turun dari bangkunya sambil melompat lalu mengambil
tas ranselnya yang berada di sampingnya.
“Cepat, yah! nanti Yesi terlambat” ucap ibu sambil mengambil piring kotor Yesi. Lalu ayah berdiri dan mencium pipi kanan ibu sekilas.“HABISKAN MAKANANMU DULU BARU MENCIUMKU!” Ibu berteriak kepada suaminya. Ayah hanya tertawa dan mengambil tas kerjanya. Ibu berjalan ke arah pintu rumahnya setelah menaruh piring kotor di tempatnya. Dia melambaikan tangannya ke mobil suaminya yang didalamnya ada ayah dan Yesi. Mereka membalas lambaian ibu.
“Cepat, yah! nanti Yesi terlambat” ucap ibu sambil mengambil piring kotor Yesi. Lalu ayah berdiri dan mencium pipi kanan ibu sekilas.“HABISKAN MAKANANMU DULU BARU MENCIUMKU!” Ibu berteriak kepada suaminya. Ayah hanya tertawa dan mengambil tas kerjanya. Ibu berjalan ke arah pintu rumahnya setelah menaruh piring kotor di tempatnya. Dia melambaikan tangannya ke mobil suaminya yang didalamnya ada ayah dan Yesi. Mereka membalas lambaian ibu.
*To be Continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar